| Motif Kontemporer dengan Warna Alam |
Asal usul tradisi batik di
wilayah Yogyakarta dimulai sejak masa kerajaan Mataram Islam pada paruh keempat
abad 16 yang pusatnya terletak di seputaran kawasan Kotagede dan Plered. Namun,
masih terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh
wanita-wanita abdi dalem. Pada perkembangannya, tradisi batik meluas ke
kalangan kraton lainnya, yakni istri para abdi dalem dan prajurit. Ketika
rakyat mengetahui keberadaan kain bercorak indah tersebut, lambat laun mereka
menirunya dan tradisi batik pun mulai tersebar di masyarakat. Desa-desa yang
berdekatan dengan makam raja-raja Giriloyo ini, lebih dari seabad lalu memiliki
perempuan perajin batik yang andal. Berdasarkan buku Out Of Indonesia,
Collaborations of Brahma Tirta Sari, tingginya kebutuhan kalangan keraton
akan busana-busana upacara berupa batik tulis buatan tangan membuat sentra
kerajinan ini terus berkembang pesat (Kompas, 1 November 2005).
Usaha batik Giriloyo yang
tradisinya sudah berjalan sejak lebih dari seabad lalu berkembang makin pesat
pada tahun 1960 – 1970 an. Bahkan, hingga awal tahun 2002 pun masih cukup
banyak wisatawan yang datang dan memenuhi sentra-sentra batik yang tersebar di
Desa Wukirsari dan Desa Girirejo. Usaha melestarikan dan memasarkan potensi
batik ini tetap berlangsung hingga pada 2008 dibentuklah Paguyuban Batik Giriloyo Wukirsari,
Imogiri, Bantul. Keberadaan Paguyuban Batik Giriloyo yang didukung penuh oleh beberapa
LSM serta pemerintah daerah ini diharapkan bisa meningkatkan taraf kehidupan
perajin dan menumbuhkan motivasi generasi muda untuk belajar membatik. Berkaitan
dengan hal tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul memasukkan Pelajaran Batik ke dalam kurikulum-Mulok
pada Sekolah Dasar.
Seiring langkah para pengrajin di
tengah-tengah Paguyuban Batik Giriloyo, terutama setelah kenaikan harga bahan
bakar minyak (BBM), usaha kerajinan batik ini semakin menurun. Harga bahan baku
batik tulis pun mengalami kenaikan. Harga kain mori yang sebelumnya di bawah Rp
25.000 naik menjadi Rp 40.000 per lembar. Harga malam (lilin) juga mengalami
kenaikan dari sekitar Rp 11.000-an/Kg menjadi Rp 25.000-an/Kg. Para pengrajin/ pengusaha
batik di Giriloyo yang masih bertahan hingga kini mengeluh, , mengaku tidak
bisa menaikkan harga jual batik tulis produksinya karena dikhawatirkan bisa
merusak pasar, yang selain melayani pasar lokal D.I. Yogyakarta juga melayani
pasar luar negeri, terutama Jepang.
Jika ditengok kembali, usaha
kerajinan batik Giriloyo memang memiliki prospek yang cukup bagus untuk
dikembangkan. Di sini ada cukup banyak sumberdaya manusia yang memiliki
kemampuan membatik secara turun-temurun. Mereka pada dasarnya memang suka
membatik dan memiliki minat untuk mengembangkan diri, misalnya ingin belajar
pewarnaan atau melakukan eksplorasi membatik dengan media selain kain. Tingkat
kreativitas para perajin itu didukung oleh sikap berpikiran positif. Secara
umum, para perajin tidak mengeluhkan kondisi mereka pascagempa.
Namun, di balik itu tetap ada
beberapa hal yang harus mendapatkan perhatian khusus dalam mengembangkan
kerajinan batik, terutama kurangnya minat generasi muda untuk menggeluti usaha
kerajinan batik. Penghasilan dari usaha ini yang tidak memadai dan tidak cepat
membuat para pemuda lebih tertarik untuk bekerja di kota. Selain masalah tenaga
kerja muda, masalah modal dan pemasaran juga menjadi masalah utama. Modal
kerajinan yang berjalan saat ini praktis hanya dimiliki oleh pengusaha batik
yang mengadakan kain, sedangkan para perajinnya sama sekali tak memiliki modal
selain tenaga membatik. Setelah karya batik selesai pun tidak diikuti oleh
strategi pemasaran yang kuat. Kebanyakan batik yang dijual pun masih setengah
selesai, yaitu hanya sampai proses nyerat (membuat motif). Proses selanjutnya
tergantung pada para pengumpul atau para pengusaha batik yang bisa
menyelesaikan prosesnya hingga menjadi batik siap pakai/jual. Salah satu hal
yang jarang mendapatkan pengamatan adalah kemampuan branding batik Giriloyo.
Menurut Ibu Suli, motif batik Giriloyo bukan motif yang biasa dipakai oleh priyayi
(bangsawan), sehingga harganya lebih rendah daripada batik bermotif Yogyakarta
atau Surakarta. Padahal, kualitas kehalusan kain batik Giriloyo setara. Dengan
kata lain, masyarakat konsumen batik pun masih belum memiliki apresiasi yang
cukup terhadap batik Giriloyo.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar